Minggu, 08 Januari 2012

Kerajinan Kre Alang khas Sumbawa

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Indonesia adalah salah satu negara kepulauan yang memiliki banyak wilayah yang terbentang dari sabang hingga merauke, dari barat hingga ke timur. Karena Indonesia terdiri dari pulau- pulau, secara otomatis Indonesia juga memiliki keanekaragaman suku yang berbeda satu sama lainnya. Hal ini juga menyebabkan keanekaragaman adat istiadat dan kebudayaan dari setiap suku di setiap wilayahnya berbeda. Seperti hasil kerajinan berupa kain tenun dari berbagai suku. Hal ini sungguh sangat menakjubakan karena biarpun Indonesia memiliki banyak wilayah yang berbeda suku bangsanya, tetapi kita semua dapat hidup rukun satu sama lainnya.
Namun yang disayangkan adalah kita sebagai kaum muda hanya mengenal kebudayaan atau hasil kerajinan kain tenun dari suku di Indonesia yang sudah terekspos secara besar- besaran di media massa saja. Contohnya saja songket atau ulos. Siapa yang tidak mengenal kedua kain ini. Hal ini sangatlah disayangkan. Oleh karena itu, disini saya akan mengupas kebudayaan suku sumbawa atau Tau Samawa dalam kerajinan tenunnya yang bernama tenun Kre Alang.

1.2 TUJUAN PENULISAN
tugas dari penulisan paper ini adalah untuk dapat memenuhi tujuan-tujuan yang dapat bermanfaat bagi para remaja dalam pemahaman tentang Kebudayaan Suku Sumbawa di Indonesia. Secara terperinci tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui sampai sejauh mana pengetahuan mahasiswa/i tentang kerajinan kain khas suku Tau Samawa (sumbawa).
2. Mengetahui sampai sejauh mana perkembangan kerajinan tenun khas suku Tau Samawa.
3. mengenalkan hasil kerajinan berupa kain tenun kre alang kepada para remaja
1.3 MANFAAT
Manfaat dari tugas paper ini adalah sebagai informasi bagi masyarakat Indonesia termasuk didalamnya adalah pengajar dan pelajar khususnya bagi mahasiswa/i seni rupa agar lebih memahami tentang Kebudayaan Suku Sumbawa di Indonesia terutama dalam mengenal hasil kerajinan berupa kain tenun khas suku Tua Samawa yang bernama Kre Alang.

















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KAJIAN PUSTAKA
Masyarakat Suku Sumbawa atau Tau Samawa membuat barang-barang kerajinan seperti romong atau bakul nasi, kursi rotan, ampat atau kipas, menenun kain tradisonal yang bernama kre alang akhir-akhir ini mulai ditinggalkan orang. 
Dalam kasus ini, saya akan membahas mengenai krajinan tenun khas suku Tau Samawa, Kre Alang.
Seperti etnis lain di Nusantara umumnya, perempuan suku Samawa, di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), juga memiliki keterampilan menenun kain songket yang didapat secara turun-temurun dari nenek moyang mereka.

Saking lekatnya tradisi menenun —termasuk menyulam dan menjahit— di Tana Samawa menjadikan keterampilan itu sebagai jati diri kaum perempuan.

Itu tergambar dari ungkapan lokal lamin no to nesek, siong tau swai, artinya bila tidak bisa menenun, bukanlah perempuan. Ungkapan itu sekaligus membedakan tugas kaum lelaki di sana seperti menggembala ternak, membajak sawah, dan lainnya.
Kre alang, adalah salah satu kain tradisional masyarakat Sumbawa yang dipakai untuk acara-acara adat resmi maupun yang sifatnya nasional. Kre Alang dibuat dengan alat tradisional yang disebut sesek.Namun sayang orang yang bisa nesek sekarang bisa dihitung dengan jari.
Menenun yang dalam bahasa Sumbawa adalah Nesek adalah kegiatan turun temurun sejak nenek moyang tau samawa dulu sampai sekarang.Namun sayang, sekarang orang yang menekuni sesek bisa dihitung dengan jari.
Kre alang mempunyai berbagai macam motif, diantaranya kemang satange, Wala suji, piyo, dan lain-lain. Untuk menyelesaikan satu kre alang butuh waktu sampai satu bulan dengan selendangnya. Mungkin Karena tingkat kesulitan yang cukup tinggi dan makan waktu lama untuk pembuatan satu kain, sehingga tidak ada gadis-gadis yang mau menekuni kegiatan nesek ini. karena tingkat kesulitan nya itulah Sehingga ada pomeo dalam masyarakat tanah sumbawa bahwa nesek adalah boat Dea Datu (Pekerjaan kaum bangsawan) karena mereka jarang keluar, karena pekerjaannya memerlukan ketekunan dan ketelitian.
Pada periode kesultanan itu diceritakan hampir semua gadis Sumbawa pandai menenun teknik palekat maupun songket. Kain-kain itu terbuat dari katun dan sutra, dikombinasikan dengan benang perak dan emas.

Kerajinan itu kian berkembang, apalagi sebelum Perang Dunia II, saat para gadis Sumbawa dipingit dan praktis bekerja di rumah, seperti menenun, menyulam, dan menjahit.

Produk tenun songket yang dihasilkan saat itu dan kini menjadi motif khas, seperti kre alang (kre = kain, alang = loteng yang melengkapi rumah panggung). Kre alang itu kemudian digunakan sebagai busana adat maupun prosesi adat.

Ada pula kain tenun kre polak desa (polak = sebagian atau separuh, desa = wilayah desa). Tenunan itu bahannya dikumpulkan dari sumbangsih warga desa.

Selesai ditenun, kain itu tidak dijual, tetapi dijadikan media pengobatan bagi anak balita (usia di bawah lima tahun) yang menderita penyakit tertentu.



2.2 PROSES PEMBUATAN KAIN KRE ALANG
Dalam proses pembuatan kain kre alang ini, akan dijelaskan secara garis besarnya saja.
pertama tama adalah Merane yaitu mengatur benang. Benag yang dipakai adalah benang perak dan emas. Langkah selanjutnya adalah nerap yaitu memasukkan sisir, selanjutnya adalah bakencang yaitu menggulung benang ke tutuk kemudian mengulur benang dan baru masuk ke proses nesek. Yang paling penting juga adalah proses buang jarum.Karena buang jarum merupakan pola dasar untuk pembuatan motif dari kain sesek. Jadi tergantung motif apa yang akan dibuat, maka buang jarum yang akan menjadi pedomannya.
Alat sesek, (alat tenun tradisional Sumbawa) tidak bias dibuat sembarangan. Karena, kayu yang dipakai untuk membuat peralatan ini adalah kayu khusus yang bias menjadi obat bagi orang nesek. Sehingga orang nesek tidak mudah menderita sakit pinggang karena duduk yang kelamaan. Sesek ini adalah peninggalan dari orang tua mereka (tau samawa) dulu. Alat ini di buat tangan bukan dengan alat. Jadi kami masih percaya bahwa alat ini mempunyai kekuatan magis karena proses pembuatanya melalui ritual oleh orang tua dulu.

2.3 FILOSOFI KAIN TENUN KRE ALANG
Kalau mau diartikan, kain tenun Sumbawa bukanlah sekadar membuat motif dan ornamen, kata Dinullah Rayes, pemerhati budaya Samawa, tetapi memiliki filosofi yang punya hubungan timbal balik dengan pola kehidupan agraris warganya, kondisi alam dan lingkungan, representasi bentuk-bentuk kekerabatan dan kebersamaan dalam kehidupan komunal mereka.

Hanya saja pesan-pesan budaya itu kini jarang dipahami sebab kebanyakan penenun lebih berorientasi pada nilai ekonomis ataupun keinginan pasar.

Terlebih lagi, dengan alat tenun tradisional, selembar kain songket kre alang baru bisa selesai ditenun satu bulan, terhitung sejak mengumpulkan bahan-bahan tenunan.
Lepas dari tuntutan ekonomis itu, kre alang memiliki makna yang disimbolkan pada ornamennya yang padat (empat-lima motif per lembar kain).

Ada garis diagonal membentuk belah ketupat, sulur daun/bunga, garis simetris, burung merak, perahu, pohon hayat, garis zig-zag, figur ayam jantan, dan burung merak antara lain menghiasi bagian tepi dan tengah
bidang tenunan.

Dari sekian banyak motif, beberapa di antaranya yang populer seperti motif cepa (bunga bersudut delapan) yang mirip motif unggusuwaru yang umumnya dipakai kalangan Kesultanan Bima. Kata Aris Zulkarnaen, pemerhati budaya Samawa, bunga dengan delapan sudut itu simbol dari sifat pemimpin dalam konsep Astabrata (Hindu).











Ada juga kemang setange (bunga setangkai), lonto engal, pusuk rebong, gelampok (tampuk buah manggis), pio (burung), kayu (pohon hayat), ular naga, slimpat (jalinan), dan lainnya.

Lonto engal adalah tanaman merambat yang buahnya berada di dalam tanah. Itu oleh Dinullah maupun Aris digambarkan sebagai sosok pekerja keras, menghindari sanjungan dan formalitas, atau lebih banyak bekerja ketimbang bicara. Ibarat penyu, yang diam-diam datang ke tempat sunyi untuk bertelur kemudian pergi mengembara meninggalkan telurnya.

Kemudian motif kapal atau perahu mungkin merupakan simbol keabadian hubungan manusia dengan Tuhan.

Sementara figur ayam jantan lewat kokoknya dikiaskan sebagai penunjuk waktu (siang-malam). Sekaligus mengingatkan manusia tentang dinamika hidup dan tanggung jawab, yang ditunjukkan ayam betina yang selalu mengajak anak-anaknya mencari dan mengais makanan.
Warna merah, coklat, dan hitam yang merupakan warna dominan songket kre alang juga sebuah simbol. Warna hitam menunjuk simbol keabadian dan kebenaran. Warna merah bisa diartikan berani berbuat apa pun demi membela kebenaran.

Jika mau disimpulkan, ragam hias dalam kain songket kre alang akhirnya menunjuk pada pranata hidup dan kehidupan yang harmoni. Adanya hubungan antara manusia dan Tuhan serta antara sesama manusia dan alam.



Manusia haruslah sadar bahwa suatu saat akan kembali kepada Sang Pencipta. Karena itu, jagad raya sebagai karunia Ilahi adalah "perantara" untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sosial yang menuntut adanya keserasian, keselarasan, dan saling hormat-menghormati sesama.

Pesan itu, seperti dikatakan Dinullah, termuat dalam ujar-ujaran sai sati nyaman mate, laga murembit sembayang, lema nyaman nyawa lalo (roh manusia akan keluar dengan mulus dari badan (sakaratulmaut), haruslah taat mengerjakan solat secara benar).
Sikap kodrati manusia seperti solidaritas sosial dan kebersamaan itu misalnya, mulai dibentuk sejak usia dini.

Mungkin pesan-pesan itu diwujudkan dalam tradisi kre polak desa. Kain tenun yang umunya berornamen garis lurus, tumpal (segi tiga), empat persegi dipakai sebagai selimut bagi balita yang menderita penyakit tertentu.

Arti simboliknya mungkin, dalam usia balita, anak perlu perlindungan yang cukup dari orang tua/keluarga, agar dalam tumbuh-kembangnya menjadi dewasa terhindar dari gangguan penyakit fisik maupun godaan duniawi dan pengaruh realitas sosial di lingkungannya.

Atau bisa juga diterjemahkan, bahwa bentuk segi tiga dalam ornamen kre alang, adalah simbol dari daur hidup manusia: lahir, hidup dan mati.

Begitu pun bentuk segi empat adalah simbol asal mula manusia dari air, tanah, api dan angin.
Kecenderungan ekonomis yang menyertai tradisi menenun agaknya tidak bisa dihindari, karena tuntutan zaman kini jauh berbeda dengan masa lampau. Namun, agar penenun tidak sekadar menjadi mesin ekonomi, "kami kalangan orangtua mencoba memberikan makna ornamen dan motif dalam kain tenun," ujar Aris Zulkarnain.

Menerjemahkan bahasa simbol pada salah satu pusaka leluhur Samawa itu agaknya diperlukan, untuk memperkuat jati diri sebagai bagian dari puak di Nusantara ini.
Dan percaya atau tidak, ia juga bisa menjadi "energi" bagi pengrajin dalam proses kreatifnya…










BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan mengenai kre alang dan kre polak tersebut, bahwa dapat disimpulkan bahwa kerajinan tenun kre alang tidaklah bisa dipisahkan dari para kaum wanita di suku Tau Samawa ini. Selain ini, kerajinan ini memerlukan keterampilang yang harus diasah atau diajarkan sejak kecil.
Selain kegiatan menenun kre alang ini begitu melekat dengan para kaum wanita Tau Samawa, kain tenun ini pun memiliki filosofi yang sangan mendalam mengenai kehidupan baik antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan yang terutama adalah hubungan antara manusia dengan sang pencipta.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar